mengerti, menerima, dan memaafkan
June 16th, 2008 by luvtolaughSebelum saya memulai postingan blog ini saya mau minta maaf terlebih dahulu
kalau sekiranya postingan di blog saya ini kayanya isinya sedih melulu atau
terkesan sangat pesimis, tapi kalau boleh saya mohon pemaklumannya, yah saya
memang belum bisa dibilang sedang senang hati sih beberapa bulan belakangan ini.
Tadi malem, waktu saya lagi malang melintang online di facebook gajelas,
tiba-tiba seorang teman saya mengirimkan link postingan blognya yang katanya
harus saya baca. Isi blognya adalah tentang bagaimana proses mengerti, menerima,
dan memaafkan sesuatu (atau seseorang) adalah tiga hal yang berbeda dan dapat
dilewati secara bertahap. Bagi yang tertarik untuk menilik lebih lanjut isi
postingan tersebut bisa klik di sini :
http://saskhyaauliaprima.wordpress.com/2008/05/14/the-journey-of-my-thoughts-to-forgive-something/
Sejenak,
saya berpikir setelah membaca postingan itu. Ya, mengerti dan menerima memang
hal yang berbeda, betul banget. Di mata kuliah wawancara juga pernah dikatakan
bahwa teknik untuk menjadi interviewer (iter) yang baik adalah ketika kita
mencoba menempatkan diri pada sudut pandang interviewee (itee), namun tidak
berarti setuju akan sudut pandangnya. Mengerti si itee, namun bukan menerima
pendapat itee sebagai pendapat kita juga. Dalam mata kuliah tersebut juga
dijelaskan bahwa tidak mudah memang untuk mengerti sudut pandang seseorang
tanpa terpengaruh sudut pandang tersebut atau justru tergoda untuk
berargumentasi dengan si itee dan memasukkan pendapat kita sendiri. Terutama
apabila isu yang sedang dibicarakan merupakan isu yang sensitif atau kontroversial.
Sesuai
dengan apa yang teman saya tulis di blognya,
“…bagaimana gw bisa memaafkan seseorang
kalau gw saja nggak bisa mengerti kenapa dia melakukan tindakan yang menurut gw
ataupun dia adalah sebuah kesalahan itu. Butuh banyak hal untuk bisa mengerti
motif dan banyak aspek lainnya tentang tindakan yang dilakukan seseorang. Butuh
rasa pengertian luar biasa dalam hal ini dan tingkat kesabaran, kebesaran hati,
dan kedewasaan untuk bisa memahami dan mengerti alasan seseorang melakukan
suatu hal.
Sulit sekali mengerti jalan pikiran
seseorang, apalagi kalau jalan pikirannya bertentangan dengan logika yang kita
miliki. Kalaupun akhirnya bisa dimengerti, entah karena memang diusahakan
sedemikian rupa untuk mengerti atau memang diikhlaskan saja dan diterima-terima
aja jalan pikiran itu. Sekali lagi tidak ada orang yang cocok 100%, yang
benar-benar ada itu mencocok-cocokkan. Buat gw, proses gw mengerti jalan
pikiran seseorang alasanya adalah manusia emang beda-beda, alur logika gw
memang tidak bisa disamakan dengan alur logika orang lain. Tapi, ini fase
pertama dimana gw bisa mulai atau paling tidak mengarahkan diri gw sendiri
untuk memaafkan kesalahan seseorang.”
Mengerti
pendapat dan keputusan seseorang membutuhkan rasa pengertian yang besar, dan
daya kognitif yang besar juga. Kalau dilakukan dengan benar-benar dapat
menguras tenaga. Coba bayangkan, untuk mengerti teori seorang behavioristik
seperti Skinner saja dibutuhkan usaha yang teramat besar bukan? Padahal semua
teori maupun pemaparannya sudah jelas-jelas tertulis di buku-buku yang dengan mudah
bisa kita dapatkan dimana saja. Bagaimana dengan pemikiran seseorang (yang
akhirnya membuat dia memutuskan sesuatu) dimana pemikiran tersebut tidak
terpaparkan di buku manapun, dan hanya disampaikan melalui kata-kata. Namun, seperti
yang kita semua tahu, betapa keterbatasan kata-kata dapat menyebabkan
kesalahpahaman, bahkan pertikaian. Apalagi jika keputusan maupun pendapat
tersebut merupakan hal yang baru dan mengejutkan bagi si penerima. Belum lagi
jika pendapat dan keputusan tersebut menyangkut keadaan emosional si penerima
(dalam hal ini tentu saya sedang membicarakan diri saya sendiri). Sulit untuk
mengerti ketika kita belum bisa menempatkan posisi kita di posisi orang lain
tersebut, percaya deh. Sulit.
“Mengerti
saja tidak cukup membuat tenang. Mengerti membuat gw berhenti menanyakan alasan
kenapa kesalahan itu terjadi, tetapi mengerti membuat gw makin banyak memiliki
pertanyaan tentang kenapa seseorang bisa berpikir seperti itu dan semakin
dikritisi hal itu semakin tidak selesai dan malah membuat pusing.
Biasanya
tahap dimana gw menerima sesuatu adalah pada saat gw sudah mengerti dan mencoba
berdiri dengan kepala tegak untuk berjalan ke depan, untuk bisa menyimpan dan
mengolah logika gw tentang alasan-alasan yang sebenarnya masih butuh usaha
keras untuk tidak dipertanyakan lagi. Ketika gw masih kecewa dan berusaha
melawan kekecewaan gw dengan cara merasionalisasikan lagi semuanya dari
berbagai macam aspek. Ketika gw sudah berjalan ke depan dan tidak lagi menoleh
ke belakang, walaupun terkadang ingin juga gw lakukan. Perjalanan pemikiran
tentang mengerti ini akan berhenti ketika gw tidak merasakan sakit hati lagi,
tidak merasa tertohok ataupun terbanting lagi adalah fase di mana gw sudah bisa
dikatakan menerima.”
Iya, mengerti memang hanya sekedar mengerti. Saya
memang sudah mengerti perlahan-lahan alasan-alasan yang dia kemukakan dan yang
paling penting adalah saya sudah tahu secara bertahap dimana letak kesalahan
saya. Namun untuk menerima? Tampaknya sedikit lebih sulit. Bagi saya menerima
untuk menyetujui keputusan seseorang itu sebagai keputusan yang benar itu
setingkat lebih tinggi daripada sekedar mengerti. Yah, dan benar saja, sampai
detik ini pun saya masih terus mempertanyakan dalam hati
Pertanyaan seperti:
“saya sudah tahu salah saya dimana, oke saya
memang sangat amat salah salaaaah banget, tapi apakah saya tidak diberi
kesempatan untuk memperbaikinya?”
“apakah memang ada motif-motif lain yang
berkaitan dengan orang lain?”
“apa saya seburuk itu dan orang lain lebih baik?”
Pertanyaan-pertanyaan
yang saya buat-buat sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan lebih
menghancurkan lagi self esteem saya
yang sudah hancur. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya membuat saya merasa semakin
merasa bersalah dan semakin merasa buruk. Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya
membuat saya pusing sendiri sampai akhirnya saya menelepon teman saya dan
menangis menggerung-gerung betapa saya tidak sanggup menerima keadaan ini. Oke,
ralat, mungkin saya sanggup, suatu hari saya pasti akan menerimanya, tapi yang
saya keluhkan adalah saya tidak tahu kapankah tiba saatnya hingga saya bisa
menerima.
Saya juga ingin merasionalkan semua pertanyaan-pertanyaan
saya tersebut, mencari jawaban yang paling logis atas itu semua. Mungkin yang
sebenarnya terjadi justru adalah saya SUDAH TAHU jawaban sebenarnya, yang
selogis-logisnya. Hanya, ya itulah, memang saya belum bisa menerima
keputusannya dan keadaan yang sekarang ini.
“Masalahnya,
ketika sudah menerima dan sudah tidak merasakan sakit lagi, Cuma ada dua
kemungkinan. Benar-benar ikhlas dalam artian nrimo beneran atau menerima sesaat
dengan masih adanya motivasi dendam, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Dendam merupakan salah satu motivasi terampuh untuk membuat kita semua berdiri.
Tidak baik memang. Bapak gw pernah bilang untuk tidak apa-apa kalau gw mau
menjadikan dendam sebagai sebuah motivasi, semua orang akan mengalami fase itu.
Pada akhirnya, gw akan tahu kalau nanti mungkin sesuatu yang bisa disebut
“serangan balik” itu tidak kita perlukan karena orientasinya akan berubah juga
secara perlahan.
Seharusnya
pada fase terakhir yaitu memaafkan, kita sudah bisa melakukan hal yang
berkaitan dengan mengerti dan menerima secara ikhlas, bukan yang hanya sesaat.
Gw sempat berpikir pada saat gw bisa mengerti semua hal dan menerimanya, gw
berarti sudah bisa memaafkan kesalahan yang terjadi. Tapi faktanya terkadang gw
bingung sendiri apakah gw benar-benar pernah mengerti arti dari sebuah kata
memaafkan? Mungkin gw mengerti, tapi apakah hal yang selama ini gw lakukan ada
bentuk yang benar dari implementasi kata memaafkan? Sejujurnya, gw pun tidak
pernah tau.”
Motivasi dendam, saya setuju bila ada yang
mengatakan dendam terkadang bisa sangat membantu. Di saat-saat yang dibutuhkan
setitik rasa dendam yang kuat bisa menjadi senjata yang paling ampuh untuk
sekedat melindungi sisa-sisa harga diri yang masih saya miliki. Rasa yang
muncul adalah ingin orang yang telah membuat saya sakit hati itu menyesal suatu
hari nanti entah bagaimana caranya. Namun kemudian, yang ada hanyalah rasa iri,
dengki, amarah, serta tidak bersyukur terhadap Tuhan. Saya sendiri samasekali
tidak mengecam motivasi dendam ini, karena sekali lagi saya bilang, dendam
terkadang dibutuhkan. Untuk memperlihatkan bahwa saya baik-baik saja, bahwa
saya akan menjadi lebih baik lagi, untuk memperlihatkan bahwa saya kuat. Walaupun ujung-ujungnya
motivasi dendam hanya akan membuat diri sendiri letih. Padahal toh kita ini
sudah cukup letih.
Dendam, bisa jadi bantuan bagi kita untuk
melupakan, mengabaikan dan menghilangkan suatu perasaan atau kejadian, orang,
dsb. Namun tetap saja, bukan menerima suatu keadaan, apalagi memaafkan. Saya
sadar betul, yang saat ini saya lakukan adalah mengabaikan, menghilangkan, atau
berusaha melupakan, singkatnya suppression.
“Menghilangkan
sesuatu dalam artian membasmi semua hal yang dapat membuat kita teringat akan
hal-hal yang telah lalu. Memutuskan kontak dengan kejadian masa lalu, berlari,
dan tidak mau tahu, mendengar, bahkan merasakan.
Saya tahu ini salah, tindakan-tindakan ini hanya
merupakan tindakan lari dari kenyataan yang ada, yang saya lakukan hanyalah
bersembunyi dari hal-hal yang bisa menyakiti hati saya, menutup mata, telinga,
dan mungkin juga hati saya. Berputar-putar mencari comfort zone yang akan melindungi saya. Mencari distraction atas masalah yang sedang
saya hadapi. Mengasihani diri sendiri, membuat diri terlihat sangat kuat
sekaligus sangat ‘korban’ sehingga saya mendapat simpati. So pathetic. Saya berpura-pura terlalu sibuk, berpura-pura memiliki
kehidupan yang lebih penting untuk dijalani, untuk itu saya BERPURA-PURA tidak peduli. In fact, I do care, a lot. I always care.
Kalau saya tidak peduli, untuk apa saya harus berlari-lari dari semua ini? (oh my god, it rhymes!).
Menghilangkan, mengabaikan, melupakan, bukanlah
solusi dari sebuah permasalahan. Menghilangkan hanya perwujudan lari dari
kenyataan. Mencoba berlindung dari ketakutan yang diciptakan oleh diri sendiri.
Sedangkan melupakan? Kita tidak akan pernah ‘lupa’ akan sesuatu rasa, kejadian,
atau apapun itu jika kita benar-benar berusaha melupakannya. Lupa terjadi
dengan sendirinya.
“Melupakan
menurut gw lebih ke arah tidak mau tau dan langsung lari mengalihkan pikiran ke
hal lain agar tidak perlu teringat kembali dengan hal-hal menyakitkan tersebut.
Mungkin tidak dibuang, akhirnya hanya akan menjadi sebuah “senjata” untuk
meningkatkan kewaspadaan. Karena lupa itu hanya membuang sementara, ketika ada
hal yang bisa mengasosiasikan kita terhadap hal-hal tertentu atau mengarahkan
ke kejadian yang buruk, ingatan itu akan kembali lagi, seberapa keraspun usaha
kita untuk mengatakan kalau kita sudah benar-benar lupa.”
Melupakan, mengabaikan, dan menghilangkan itu
melelahkan dan menyakitkan. Karena semakin kita berusaha untuk melakukan ketiga
hal tersebut, yang ada justru kita semakin terokupasi akan hal yang ingin kita
hilangkan. Namun saya sendiri melakukan hal itu. Seorang teman saya bilang
bahwa hal ini wajar, karena ini suatu wujud perlindungan diri dan penyelamatan
diri sendiri. Sekarang saya mengerti kenapa Freud mengemukakan apa yang disebutnya
sebagai self defence mechanism. Kira-kira
seperti itulah bentuknya.
“Terkadang
ada perasaan untuk membuat orang yang pernah melakukan kesalahan itu menyesal,
tapi pada akhirnya gw tidak perduli. Semua teringat, tapi sudah tidak ada
artinya lagi. Sudah tidak bisa lagi merasakan sakitnya, sudah lupa bagaimana
besar rasa dendam yang ada. Tiba-tiba saja semua orientasinya berubah dan tali
yang mengikat gw dengan masalah itupun lepas, sehingga selesai dengan
sendirinya. Mungkin memang tahap gw memaafkan adalah dengan cara itu. Ketika gw
tidak perduli lagi dan tidak terganggu dengan keberadaan subjek yang melakukan
kesalahan terhadap gw dan gw bisa menyikapinya dengan sewajar mungkin tanpa
dibuat-buat. Di situlah proses gw memaafkan yang pada akhirnya mungkin dapat
menghasilkan kalimat, “Oh, gw sudah memaafkannya kok.”, baik secara eksplisit
maupun implisit.”
Saya pernah berada di posisi seperti ini
sebelumnya. Mengalami sebuah hal buruk yang mengharuskan saya menerima
perubahan yang bisa dibilang sangat tidak enak bagi saya saat itu. Saya juga
pernah melalui fase memaafkan. Saya pernah, dan saya ingat betul rasanya.
Perasaan seperti terlepaskan dari ikatan tali-tali tambang yang selama ini
menggores-gores kulit, badan, juga hati. Perasaan tenang, damai, dan senyuman
tulus. Perasaan gembira dan yang ada hanya menertawakan apa yang sudah terjadi.
Pada saat itu, yang ada hanyalah indah. Saya sudah tidak ingat lagi rasa sakit
hatinya, oke mungkin saya ingat, tapi sudah tidak peduli lagi. Semuanya selesai
dengan sendirinya, dan ditutup dengan seyuman paling manis yang saya miliki.
Bahkan tidak ada penyesalan, airmata, amarah atau rasa sedih sedikitpun yang
terasa ketika saya ingat-ingat lagi kejadian-kejadian waktu itu. Yang ada
hanyalah senyum. Saya pun bisa berhubungan dengan baik dengan orang yang dulu
pernah sangat saya risaukan tersebut. Tidak ada penyesalan. Tidak ada dendam.
Saya bahkan tidak peduli apa dia menyesal atau tidak.
“Satu hal
yang pasti, to forgive takes a very long time somehow”
Sangat lama bahkan. Perasaan saya waktu itu persis dengan perasaan saya
saat ini. Takut, marah, sedih, lelah, ragu, semua bercampur aduk. Sampai akhirnya
saya menyerah dan pasrah. Saat itulah saya belajar untuk menerima dan
memaafkan. Satu hal yang saya pelajari, ketika kita sudah menerima, jauh lebih
mudah untuk memaafkan.
Salah seorang teman saya yang lain, Disa namanya, bertanya pada saya “Ayo
dhe, orang yang udah cerai aja bisa damai lagi dan bisa jatuh cinta lagi kok,
masa sih lo takut jatuh cinta lagi?”. Benar juga, orang yang bercerai pasti
hatinya lebih remuk redam daripada saya. Pertanggungjawaban mereka juga lebih
besar, terutama jika mereka sudah memiliki anak. Perbedaannya dengan saya
adalah mereka memiliki lebih banyak pengalaman dan daya kognitif yang sudah
lebih matang daripada saya. Tapi saya tetap berdoa dan berdoa, suatu hari nanti
saya akan bisa bicara lagi dengannya.
Untuk sekarang, yang harus saya lakukan adalah berdamai.
Damai dengan diri sendiri
Damai dengan keadaan
Baru kemudian berdamai dengan dia.
Terimakasih
buat Saski atas blognya yang sangat inspiring, buat semua temen2 yang masih
mau nemenin dan dengerin saya, dan nemenin saya nangis J
I love
you guys, and I mean it. Doakan saya yaaa.
- D! -