mengerti, menerima, dan memaafkan

June 16th, 2008 by luvtolaugh

Sebelum saya memulai postingan blog ini saya mau minta maaf terlebih dahulu
kalau sekiranya postingan di blog saya ini kayanya isinya sedih melulu atau
terkesan sangat pesimis, tapi kalau boleh saya mohon pemaklumannya, yah saya
memang belum bisa dibilang sedang senang hati sih beberapa bulan belakangan ini.


Tadi malem, waktu saya lagi malang melintang online di facebook gajelas,
tiba-tiba seorang teman saya mengirimkan link postingan blognya yang katanya
harus saya baca. Isi blognya adalah tentang bagaimana proses mengerti, menerima,
dan memaafkan sesuatu (atau seseorang) adalah tiga hal yang berbeda dan dapat
dilewati secara bertahap. Bagi yang tertarik untuk menilik lebih lanjut isi
postingan tersebut bisa klik di sini :

http://saskhyaauliaprima.wordpress.com/2008/05/14/the-journey-of-my-thoughts-to-forgive-something/


Sejenak,
saya berpikir setelah membaca postingan itu. Ya, mengerti dan menerima memang
hal yang berbeda, betul banget. Di mata kuliah wawancara juga pernah dikatakan
bahwa teknik untuk menjadi interviewer (iter) yang baik adalah ketika kita
mencoba menempatkan diri pada sudut pandang interviewee (itee), namun tidak
berarti setuju akan sudut pandangnya. Mengerti si itee, namun bukan menerima
pendapat itee sebagai pendapat kita juga. Dalam mata kuliah tersebut juga
dijelaskan bahwa tidak mudah memang untuk mengerti sudut pandang seseorang
tanpa terpengaruh sudut pandang tersebut atau justru tergoda untuk
berargumentasi dengan si itee dan memasukkan pendapat kita sendiri. Terutama
apabila isu yang sedang dibicarakan merupakan isu yang sensitif atau kontroversial.


Sesuai
dengan apa yang teman saya tulis di blognya,

“…bagaimana gw bisa memaafkan seseorang
kalau gw saja nggak bisa mengerti kenapa dia melakukan tindakan yang menurut gw
ataupun dia adalah sebuah kesalahan itu. Butuh banyak hal untuk bisa mengerti
motif dan banyak aspek lainnya tentang tindakan yang dilakukan seseorang. Butuh
rasa pengertian luar biasa dalam hal ini dan tingkat kesabaran, kebesaran hati,
dan kedewasaan untuk bisa memahami dan mengerti alasan seseorang melakukan
suatu hal.

Sulit sekali mengerti jalan pikiran
seseorang, apalagi kalau jalan pikirannya bertentangan dengan logika yang kita
miliki. Kalaupun akhirnya bisa dimengerti, entah karena memang diusahakan
sedemikian rupa untuk mengerti atau memang diikhlaskan saja dan diterima-terima
aja jalan pikiran itu. Sekali lagi tidak ada orang yang cocok 100%, yang
benar-benar ada itu mencocok-cocokkan. Buat gw, proses gw mengerti jalan
pikiran seseorang alasanya adalah manusia emang beda-beda, alur logika gw
memang tidak bisa disamakan dengan alur logika orang lain. Tapi, ini fase
pertama dimana gw bisa mulai atau paling tidak mengarahkan diri gw sendiri
untuk memaafkan kesalahan seseorang.”

    Mengerti
pendapat dan keputusan seseorang membutuhkan rasa pengertian yang besar, dan
daya kognitif yang besar juga. Kalau dilakukan dengan benar-benar dapat
menguras tenaga. Coba bayangkan, untuk mengerti teori seorang behavioristik
seperti Skinner saja dibutuhkan usaha yang teramat besar bukan? Padahal semua
teori maupun pemaparannya sudah jelas-jelas tertulis di buku-buku yang dengan mudah
bisa kita dapatkan dimana saja. Bagaimana dengan pemikiran seseorang (yang
akhirnya membuat dia memutuskan sesuatu) dimana pemikiran tersebut tidak
terpaparkan di buku manapun, dan hanya disampaikan melalui kata-kata. Namun, seperti
yang kita semua tahu, betapa keterbatasan kata-kata dapat menyebabkan
kesalahpahaman, bahkan pertikaian. Apalagi jika keputusan maupun pendapat
tersebut merupakan hal yang baru dan mengejutkan bagi si penerima. Belum lagi
jika pendapat dan keputusan tersebut menyangkut keadaan emosional si penerima
(dalam hal ini tentu saya sedang membicarakan diri saya sendiri). Sulit untuk
mengerti ketika kita belum bisa menempatkan posisi kita di posisi orang lain
tersebut, percaya deh. Sulit.

“Mengerti
saja tidak cukup membuat tenang. Mengerti membuat gw berhenti menanyakan alasan
kenapa kesalahan itu terjadi, tetapi mengerti membuat gw makin banyak memiliki
pertanyaan tentang kenapa seseorang bisa berpikir seperti itu dan semakin
dikritisi hal itu semakin tidak selesai dan malah membuat pusing.

Biasanya
tahap dimana gw menerima sesuatu adalah pada saat gw sudah mengerti dan mencoba
berdiri dengan kepala tegak untuk berjalan ke depan, untuk bisa menyimpan dan
mengolah logika gw tentang alasan-alasan yang sebenarnya masih butuh usaha
keras untuk tidak dipertanyakan lagi. Ketika gw masih kecewa dan berusaha
melawan kekecewaan gw dengan cara merasionalisasikan lagi semuanya dari
berbagai macam aspek. Ketika gw sudah berjalan ke depan dan tidak lagi menoleh
ke belakang, walaupun terkadang ingin juga gw lakukan. Perjalanan pemikiran
tentang mengerti ini akan berhenti ketika gw tidak merasakan sakit hati lagi,
tidak merasa tertohok ataupun terbanting lagi adalah fase di mana gw sudah bisa
dikatakan menerima.”

Iya, mengerti memang hanya sekedar mengerti. Saya
memang sudah mengerti perlahan-lahan alasan-alasan yang dia kemukakan dan yang
paling penting adalah saya sudah tahu secara bertahap dimana letak kesalahan
saya. Namun untuk menerima? Tampaknya sedikit lebih sulit. Bagi saya menerima
untuk menyetujui keputusan seseorang itu sebagai keputusan yang benar itu
setingkat lebih tinggi daripada sekedar mengerti. Yah, dan benar saja, sampai
detik ini pun saya masih terus mempertanyakan dalam hati

Pertanyaan seperti:

“saya sudah tahu salah saya dimana, oke saya
memang sangat amat salah salaaaah banget, tapi apakah saya tidak diberi
kesempatan untuk memperbaikinya?”

“apakah memang ada motif-motif lain yang
berkaitan dengan orang lain?”

“apa saya seburuk itu dan orang lain lebih baik?”

Pertanyaan-pertanyaan
yang saya buat-buat sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan lebih
menghancurkan lagi self esteem saya
yang sudah hancur. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya membuat saya merasa semakin
merasa bersalah dan semakin merasa buruk. Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya
membuat saya pusing sendiri sampai akhirnya saya menelepon teman saya dan
menangis menggerung-gerung betapa saya tidak sanggup menerima keadaan ini. Oke,
ralat, mungkin saya sanggup, suatu hari saya pasti akan menerimanya, tapi yang
saya keluhkan adalah saya tidak tahu kapankah tiba saatnya hingga saya bisa
menerima.

Saya juga ingin merasionalkan semua pertanyaan-pertanyaan
saya tersebut, mencari jawaban yang paling logis atas itu semua. Mungkin yang
sebenarnya terjadi justru adalah saya SUDAH TAHU jawaban sebenarnya, yang
selogis-logisnya. Hanya, ya itulah, memang saya belum bisa menerima
keputusannya dan keadaan yang sekarang ini.


“Masalahnya,
ketika sudah menerima dan sudah tidak merasakan sakit lagi, Cuma ada dua
kemungkinan. Benar-benar ikhlas dalam artian nrimo beneran atau menerima sesaat
dengan masih adanya motivasi dendam, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Dendam merupakan salah satu motivasi terampuh untuk membuat kita semua berdiri.
Tidak baik memang. Bapak gw pernah bilang untuk tidak apa-apa kalau gw mau
menjadikan dendam sebagai sebuah motivasi, semua orang akan mengalami fase itu.
Pada akhirnya, gw akan tahu kalau nanti mungkin sesuatu yang bisa disebut
“serangan balik” itu tidak kita perlukan karena orientasinya akan berubah juga
secara perlahan.

Seharusnya
pada fase terakhir yaitu memaafkan, kita sudah bisa melakukan hal yang
berkaitan dengan mengerti dan menerima secara ikhlas, bukan yang hanya sesaat.
Gw sempat berpikir pada saat gw bisa mengerti semua hal dan menerimanya, gw
berarti sudah bisa memaafkan kesalahan yang terjadi. Tapi faktanya terkadang gw
bingung sendiri apakah gw benar-benar pernah mengerti arti dari sebuah kata
memaafkan? Mungkin gw mengerti, tapi apakah hal yang selama ini gw lakukan ada
bentuk yang benar dari implementasi kata memaafkan? Sejujurnya, gw pun tidak
pernah tau.”

Motivasi dendam, saya setuju bila ada yang
mengatakan dendam terkadang bisa sangat membantu. Di saat-saat yang dibutuhkan
setitik rasa dendam yang kuat bisa menjadi senjata yang paling ampuh untuk
sekedat melindungi sisa-sisa harga diri yang masih saya miliki. Rasa yang
muncul adalah ingin orang yang telah membuat saya sakit hati itu menyesal suatu
hari nanti entah bagaimana caranya. Namun kemudian, yang ada hanyalah rasa iri,
dengki, amarah, serta tidak bersyukur terhadap Tuhan. Saya sendiri samasekali
tidak mengecam motivasi dendam ini, karena sekali lagi saya bilang, dendam
terkadang dibutuhkan. Untuk memperlihatkan bahwa saya baik-baik saja, bahwa
saya akan menjadi lebih baik lagi, untuk memperlihatkan bahwa saya kuat. Walaupun ujung-ujungnya
motivasi dendam hanya akan membuat diri sendiri letih. Padahal toh kita ini
sudah cukup letih.

Dendam, bisa jadi bantuan bagi kita untuk
melupakan, mengabaikan dan menghilangkan suatu perasaan atau kejadian, orang,
dsb. Namun tetap saja, bukan menerima suatu keadaan, apalagi memaafkan. Saya
sadar betul, yang saat ini saya lakukan adalah mengabaikan, menghilangkan, atau
berusaha melupakan, singkatnya suppression.


“Menghilangkan
sesuatu dalam artian membasmi semua hal yang dapat membuat kita teringat akan
hal-hal yang telah lalu. Memutuskan kontak dengan kejadian masa lalu, berlari,
dan tidak mau tahu, mendengar, bahkan merasakan.

Saya tahu ini salah, tindakan-tindakan ini hanya
merupakan tindakan lari dari kenyataan yang ada, yang saya lakukan hanyalah
bersembunyi dari hal-hal yang bisa menyakiti hati saya, menutup mata, telinga,
dan mungkin juga hati saya. Berputar-putar mencari comfort zone yang akan melindungi saya. Mencari distraction atas masalah yang sedang
saya hadapi. Mengasihani diri sendiri, membuat diri terlihat sangat kuat
sekaligus sangat ‘korban’ sehingga saya mendapat simpati. So pathetic. Saya berpura-pura terlalu sibuk, berpura-pura memiliki
kehidupan yang lebih penting untuk dijalani, untuk itu saya BERPURA-PURA tidak peduli. In fact, I do care, a lot. I always care.
Kalau saya tidak peduli, untuk apa saya harus berlari-lari dari semua ini? (oh my god, it rhymes!).

Menghilangkan, mengabaikan, melupakan, bukanlah
solusi dari sebuah permasalahan. Menghilangkan hanya perwujudan lari dari
kenyataan. Mencoba berlindung dari ketakutan yang diciptakan oleh diri sendiri.
Sedangkan melupakan? Kita tidak akan pernah ‘lupa’ akan sesuatu rasa, kejadian,
atau apapun itu jika kita benar-benar berusaha melupakannya. Lupa terjadi
dengan sendirinya.


“Melupakan
menurut gw lebih ke arah tidak mau tau dan langsung lari mengalihkan pikiran ke
hal lain agar tidak perlu teringat kembali dengan hal-hal menyakitkan tersebut.
Mungkin tidak dibuang, akhirnya hanya akan menjadi sebuah “senjata” untuk
meningkatkan kewaspadaan. Karena lupa itu hanya membuang sementara, ketika ada
hal yang bisa mengasosiasikan kita terhadap hal-hal tertentu atau mengarahkan
ke kejadian yang buruk, ingatan itu akan kembali lagi, seberapa keraspun usaha
kita untuk mengatakan kalau kita sudah benar-benar lupa.”

Melupakan, mengabaikan, dan menghilangkan itu
melelahkan dan menyakitkan. Karena semakin kita berusaha untuk melakukan ketiga
hal tersebut, yang ada justru kita semakin terokupasi akan hal yang ingin kita
hilangkan. Namun saya sendiri melakukan hal itu. Seorang teman saya bilang
bahwa hal ini wajar, karena ini suatu wujud perlindungan diri dan penyelamatan
diri sendiri. Sekarang saya mengerti kenapa Freud mengemukakan apa yang disebutnya
sebagai self defence mechanism. Kira-kira
seperti itulah bentuknya.


“Terkadang
ada perasaan untuk membuat orang yang pernah melakukan kesalahan itu menyesal,
tapi pada akhirnya gw tidak perduli. Semua teringat, tapi sudah tidak ada
artinya lagi. Sudah tidak bisa lagi merasakan sakitnya, sudah lupa bagaimana
besar rasa dendam yang ada. Tiba-tiba saja semua orientasinya berubah dan tali
yang mengikat gw dengan masalah itupun lepas, sehingga selesai dengan
sendirinya. Mungkin memang tahap gw memaafkan adalah dengan cara itu. Ketika gw
tidak perduli lagi dan tidak terganggu dengan keberadaan subjek yang melakukan
kesalahan terhadap gw dan gw bisa menyikapinya dengan sewajar mungkin tanpa
dibuat-buat. Di situlah proses gw memaafkan yang pada akhirnya mungkin dapat
menghasilkan kalimat, “Oh, gw sudah memaafkannya kok.”, baik secara eksplisit
maupun implisit.”

Saya pernah berada di posisi seperti ini
sebelumnya. Mengalami sebuah hal buruk yang mengharuskan saya menerima
perubahan yang bisa dibilang sangat tidak enak bagi saya saat itu. Saya juga
pernah melalui fase memaafkan. Saya pernah, dan saya ingat betul rasanya.
Perasaan seperti terlepaskan dari ikatan tali-tali tambang yang selama ini
menggores-gores kulit, badan, juga hati. Perasaan tenang, damai, dan senyuman
tulus. Perasaan gembira dan yang ada hanya menertawakan apa yang sudah terjadi.
Pada saat itu, yang ada hanyalah indah. Saya sudah tidak ingat lagi rasa sakit
hatinya, oke mungkin saya ingat, tapi sudah tidak peduli lagi. Semuanya selesai
dengan sendirinya, dan ditutup dengan seyuman paling manis yang saya miliki.
Bahkan tidak ada penyesalan, airmata, amarah atau rasa sedih sedikitpun yang
terasa ketika saya ingat-ingat lagi kejadian-kejadian waktu itu. Yang ada
hanyalah senyum. Saya pun bisa berhubungan dengan baik dengan orang yang dulu
pernah sangat saya risaukan tersebut. Tidak ada penyesalan. Tidak ada dendam.
Saya bahkan tidak peduli apa dia menyesal atau tidak.

“Satu hal
yang pasti, to forgive takes a very long time somehow


Sangat lama bahkan. Perasaan saya waktu itu persis dengan perasaan saya
saat ini. Takut, marah, sedih, lelah, ragu, semua bercampur aduk. Sampai akhirnya
saya menyerah dan pasrah. Saat itulah saya belajar untuk menerima dan
memaafkan. Satu hal yang saya pelajari, ketika kita sudah menerima, jauh lebih
mudah untuk memaafkan.


Salah seorang teman saya yang lain, Disa namanya, bertanya pada saya “Ayo
dhe, orang yang udah cerai aja bisa damai lagi dan bisa jatuh cinta lagi kok,
masa sih lo takut jatuh cinta lagi?”. Benar juga, orang yang bercerai pasti
hatinya lebih remuk redam daripada saya. Pertanggungjawaban mereka juga lebih
besar, terutama jika mereka sudah memiliki anak. Perbedaannya dengan saya
adalah mereka memiliki lebih banyak pengalaman dan daya kognitif yang sudah
lebih matang daripada saya. Tapi saya tetap berdoa dan berdoa, suatu hari nanti
saya akan bisa bicara lagi dengannya.

Untuk sekarang, yang harus saya lakukan adalah berdamai.

Damai dengan diri sendiri

Damai dengan keadaan

Baru kemudian berdamai dengan dia.

 

Terimakasih
buat Saski atas blognya yang sangat inspiring, buat semua temen2 yang masih
mau nemenin dan dengerin saya, dan nemenin saya nangis
J

I love
you guys, and I mean it. Doakan saya yaaa.

- D! -

Apa anda percaya konsep jodoh ?

May 22nd, 2008 by luvtolaugh

Sebagian besar agama, terutama agama saya sendiri mungkin mengemukakan
bahwa manusia diciptakan pada dasarnya berpasang-pasangan. Hal ini
membuat orang berasumsi bahwa setiap dari kita memiliki seseorang yang
entah siapa dan ada di mana yang akan menjadi pasangan hidup kita
kelak, dan memang ditakdirkan untuk bersama kita. Seseorang inilah yang
kita sebut sebagai ‘jodoh’ kita. Saya juga sering mendengar ungkapan ‘kalau memang jodoh toh nggak akan kemana-mana’ terutama akhir-akhir ini berhubunga saya baru saja diputuskan oleh pacar saya.

Apakah
konsep jodoh itu benar pengertiannya? Apakah memang benar ada seseorang
yang sekarang entah ada dimana yang memang diperuntukkan untuk saya
seorang? Ataukah memang hanya manusia yang memang pada dasarnya
memiliki kebutuhan akan afeksi (dan memiliki hasrat tentunya) yang
menciptakan sendiri pengertian ini dan mencoba membuat diri mereka
percaya? Apakah kata-kata ‘kalau jodoh tidak akan kemana-mana‘ hanya sekedar penghiburan karena tidak tahu harus berkata apa lagi kepada saya yang sedang patah hati?

Saya melihat banyak hal yang membingungkan disini.

Pertama,
jika merujuk kepada pernyataan jodoh sama dengan pasangan hidup, maka
coba definisikan pada saya apa pasangan hidup itu? Apakah orang yang
pada akhirnya menikah dengan kita? Jika begitu adanya, bagaimana dengan
orang yang telah menikah belasan atau puluhan tahun lalu pasangannya
meninggalkannya duluan (dalam artian meninggal dunia) dan kemudian ia
menikah lagi dengan seseorang dan hidup tenang dengan orang itu hingga
akhir hayatnya. Jika begitu keadaannya lalu pasangan yang manakah yang
merupakan ‘jodoh’ orang tersebut? Apakah pasangannya yang pertama yang
kemudian meninggal, atau justru pasangannya yang kedua yang menemaninya
hingga akhir hayatnya?

Kedua,
pernyataan dalam agama saya sendiri juga sudah cukup membuat saya
kebingungan. dalam agama saya setiap laki-laki diijinkan memiliki istri
lebih dari satu (batasannya adalah maksimal 4 orang istri, saya belum
mendapatkan pengetahuan lebih lanjut kenapa batasannya 4 orang.) jika
keadaannya memang mengharuskan demikian dan laki-laki tersebut harus
bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya. Jika dalam agama sendiri
disebutkan demikian berarti pengertian akan konsep jodoh yang kita
percaya selama ini tidak dapat dikenakan pada keadaan seperti ini.
Apakah jika seorang laki-laki memiliki 4 orang istri maka keempat
istrinya tersebut adalah ‘jodoh’ yang diperuntukkan baginya? Jika
begitu keadaannya, apakah ‘jodoh’ kita bukan hanya satu orang di dunia
ini? (hal ini berlaku juga untuk kebingungan yang pertama)

Ketiga, kembali ke definisi pasangan hidup. Bagaimana dengan pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (disebut juga cohabitation)? Saya tahu dalam agama saya tentu saja cohabitation dikatakan
sebagai dosa dan di Indonesia sendiri mungkin tidak terlalu lazim dan
memang dilarang oleh hukum dan adat adanya, namun konsep ‘jodoh’ di
sini kan semestinya universal
bagi semua orang, dengan agama, ras, kewarganegaraan maupun tingkat
sosial ekonomi jadi semestinya bisa diterapkan dimana saja. Apakah
orang yang tinggal bersama hingga akhir hayat mereka walau tanpa ikatan
pernikahan juga disebut ’saling berjodoh’ ?

Keempat, bagaimana
halnya dengan pasangan yang sudah menikah puluhan tahun lalu kemudian
bercerai? Apakah sebuah pernikahan yang berujung kepada perceraian
berarti keduanay ‘memaksakan’ untuk menikah dengan orang yang
sebetulnya bukan ‘jodoh’ yang diperuntukkan mereka? Apakah perkawinan
mereka hanya merupakan sebuah kesalahan semata? Saya sih memiliki
asumsi bahwa setiap pasangan yang bercerai tentu pernah saling
menyayangi dan sebelum memutuskan bercerai mereka melakukan segala
sesuatu yang dapat mempertahankan pernikahan mereka namun ternyata
memang tidak dapat dipertahankan lagi. Lalu bagaimana penjelasan konsep
‘jodoh’ tadi akan kejadian seperti ini? 

Kelima, jika
dilihat-lihat (teman saya sempat menyebutkan data dari suatu survei
tingkat internasional) proporsi manusia yang berjenis kelamin laki-laki
dan perempuan jelas-jelas timpang dimana jumlah perempuan lebih banyak.
Hal ini juga didukung fakta bahwa pada awalnya ketika masih janin yang
berusia di bawah enam bulan kita semua berjenis kelamin perempuan (saya
baca tentang ini di buku Physiological Psychology
saat saya masih berada di semester 2 tapi nama penulisnya saya lupa).
Dengan fakta tersebut tidak heran jika lebih banyak bayi perempuan yang
lahir daripada bayi laki-laki (bisakah saya membuat kesimpulan
begitu?). Intinya, jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Dengan keadaan seperti ini, bagaimana bisa konsep ‘jodoh’ dimana setiap
orang memiliki satu orang yang memang diperuntukan menjadi pasangan
hidup mereka kelak, dapat diterapkan?

Sebetulnya masih banyak
pertanyaan pertanyaan saya yang lain, seperti bagaimana dengan pasangan
homoseksual? Apakah memang pasangannya yang sekarang itulah yang
menjadi ‘jodoh’ mereka? Bagaimana dengan orang yang memutuskan untuk
tidak menikah? Apakah berarti mereka tidak punya jodoh? Atau mereka
mengingkari jodoh mereka? Bagaimana dengan pasangan yang tidak bahagia
namun tetap terikat dalam satu ikatan pernikahan? Apakah mereka
betul-betul ‘berjodoh’?

Kebingungan saya ditutup dengan
kebingungan terakhir saya yaitu jika memang sudah ada orang yang telah
diperuntukkan untuk kita masing-masing, maka untuk apa manusia kesana
kemari sulit mencari pasangan hidupnya bahkan ada yang sampai
menggunakan jasa internet segala? Kemudian, jika memang konsep jodoh
itu benar adanya maka saya tidak usah susah-susah berusaha membuat diri
saya tampak baik atau susah payah menyesuaikan diri saya dengan
seseorang ketika saya sedang menjalin hubungan dengan orang tersebut
dong? Lalu, apakah pasangan suami istri yang dipertemukan melalui
proses ta’aruf itu benar-benar ber’jodoh’?

Untuk sementara ini
saya bisa mengatakan bahwa saya sangsi terhadap pengertian konsep
‘jodoh’ ini. Akhirnya saya mengambil pemikiran aman. Menurut saya,
keadaannya bukanlah satu orang yang ‘disiapkan atau diperuntukkan’
sebagai pasangan hidup kita kelak, yang ada hanyalah
kemungkinan-kemungkinan yang akan membawa kita ke beberapa orang yang memiliki potensi paling cocok dengan kita dan kemudian menjadi pasangan hidup kita kelak. Beberapa orang
inilah yang saya sebut sebagai ‘jodoh-jodoh’ kita masing-masing. Proses
yang terjadi adalah, saat kita mengambil keputusan atau melakukan suatu
tindakan tertentu dalam hidup, maka hal itu akan membuka kesempatan
kita untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan si A, namun jika kita
melakukan tindakan lain, bisa saja kita dipertemukannya dengan si B
atau si D.

Menurut saya itulah yang terjadi, karena bagi saya
hidup ini penuh kemungkinan dan selalu dinamis (atau sebenarnya saya
hanya cari aman saja?). Dengan penjelasan ini maka sedikit banyak saya
bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sendiri walaupun tentu saja
saya masih membutuhkan jawaban yang benar-benar memuaskan saya. Ah,
walaupun saya tidak percaya konsep jodoh, namun saya tetap berharap
bahwa segala sesuatu yang saya lakukan pada akhirnya akan mempertemukan
saya dengan seseorang yang memang betul-betul mengerti saya dan saya
bisa merasa sangat cocok dengannya, AMIEEENN.

Lalu, bagaimana dengan anda?
Apa ada yang punya penjelasan lain mengenai konsep jodoh?
Please, feel free to share since I would love to know yours :)

- D! -

ayo mengempiskan balon!

December 15th, 2007 by luvtolaugh

Halo, ada yang tau t besar dan T kecil? Atau istilah over stimulated dan under stimulated mungkin, atau stres bagus dan stres buruk? Yah intinya sih sama  sebetulnya, menggambarkan sejauh mana tingkat stres yang dirasakan oleh seseorang dapat berdampak baik atau buruk bagi orang itu, begitu.

Pernah denger berbagai macam analogi atau perumpamaan yang menggambarkan tingkat stres ini kan? Ada yang bilang, tekanan atau stres itu sama halnya seperti kita minum minuman berakohol, minum sampai pada tahap tertentu akan bikin kita merasa hangat dan asik dibawa joget di atas dancefloor, tapi kalo kebanyakan ujung-ujungnya malah kobam trus jackpot, kalo udah begitu rasanya gaenak dan jatohnya jadi repot, paginya hangover dan malah gabisa ngapa-ngapain. Ada lagi yang bilang, tekanan atau stres itu sama seperti kalo kita makan, prinsipnya sih sama, kalo kurang kita laper, kalo kebanyakan kita malah jadi kekenyangan dan muntah. Udah familiar kan sama perumpamaan-perumpamaan kaya gini?

Intinya semua mengatakan bahwa stres itu baik sampai pada tahap-tahap tertentu karena bisa memotivasi individu, tapi kalau terlalu banyak kadarnya juga jadi nggak bagus, bikin kerja jadi nggak optimal, bahkan ujung-ujungnya bisa jadi destruktif buat orang itu. Diantara banyak kelakar orang-orang mengenai perumpamaan tingkat stres baik dan buruk, ada satu yang baru-baru ini saya dengar dan entah mengapa saya teringat terus dan cukup terkesan dengan yang satu ini. Entah karena idenya yang sederhana atau mungkin juga karena saat itu saya sedang mengalami tingkat stres yang cukup memberatkan saya, sindrom menjelang ujian akhir dimana tugas-tugas menyerang secara bertubi-tubi *berlebihan*.

Ungkapan ini datang dari salah seorang dosen mata kuliah psikologi perkembangan manusia *salah satu dari mata kuliah yang tugas-tugasnya bisa menghasilkan bobot stres yang cukup tinggi bagi saya, terutama revisi makalah yang terakhir dan bahan ujian yang nggak tanggung-tanggung*. Jujur saja, sebetulnya saya nggak tahu nama si ibu dosen ini, soalnya memang dia baru sekali-sekalinya masuk ke kelas saya, di kuliah terakhir pula. Jadilah si dosen ini anonymous buat saya, dan buat teman-teman sekelompok saya, karena mereka berdua juga nggak ada yang tahu nama dosennya.

Sebetulnya, saya tidak mendengar secara langsung ungkapan mengenai stres itu, tepatnya saya tidak sengaja ikut mendengar pembicaraan teman sekelompok saya dengan dosen tersebut. Dosen tersebut sedang menasihati teman saya supaya dia memahami betul batas tubuhnya jadi dia tidak harus sakit lagi *ket: sekitar beberapa hari sebelum pembicaraan terjadi, teman sekelompok saya itu baru saja kambuh asmanya karena terlalu lelah dengan tugas-tugas dan kepanitiaan di kampus, ditambah lagi dia stres memikirkan acara yang akan diketuainya esok harinya. Jadilah dia tumbang di kampus, dan si ibu dosen inilah yang ikut membantu membawa dia ke pusat kesehatan mahasiswa (PKM) -eh ngga tau bener apa salah ni kepanjangannya-*

Tadinya saya samasekali tidak mempedulikan pembicaraan mereka berdua, ya iya dong, kan bukan urusan saya, lagipula tidak menyangkut saya sama sekali. Tapi saya menjadi tertarik ketika saya sedikit mendengar ibu dosen ini mulai menyebut-nyebut tentang balon. Dalam hati saya berkata ‘ho? kenapa ada balon segala?’ akhirnya saya perlahan-lahan mendekatkan posisi berdiri saya ke mereka berdua dan ‘melebarkan’ telinga saya.

"pikiran manusia itu ibaratnya seperti balon" begitu kata si ibu dosen -wah menarik banget, pikir saya- "tahu balon kan? Dia perlu kadar gas yang cukup untuk membuat dia bisa mengembang dan jadi bulat sempurna kemudian mampu melayang, kalau kadar gasnya tidak cukup jadinya dia loyo dan kempis. Tapi, gas yang ada di dalam balon juga tidak boleh terlalu banyak, karena tekanan yang berlebihan bisa membuat balon itu meledak, sama saja dengan manusia juga begitu. Kalau terlalu banyak tekanan pikiran dan jadi terlalu stres jadinya ya kaya kamu kemarin itu. Makanya kamu harus kurangi beban pikiran sperti mengempiskan gas di balon" Wah, saya terdiam sesaat memikirkan kata-kata si ibu dosen, lucu juga, pikir saya.

Sebentar kemudian saya segera beranjak dari tempat saya berdiri karena pembicaraan selanjutnya ada nasihat-nasihat seperti "makanya, kamu harus tahu batas kemampuan badan kamu dimana, semua orang punya prioritas blabalabla", dan seterusnya. Jadi saya merasa sudah waktunya untuk pergi dari tempat itu hehe.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya sangat terkesan dengan ungkapan balon tadi, mungkin karena saya lumayan suka sama balon dan warnawarninya itu, mungkin juga karena idenya sangat sederhana tapi mengena, mungkin karena saya merasa tertohok. Yap, tertohok, akhir-akhir ini otak saya memang seperti balon yang siap meledak, penuh sesak dengan segala materi-materi tugas, bahan-bahan ujian, belum lagi urusan-urusan lain yang mengganggu rutinitas, seperti misalnya masalah hati dan sebagainya-dan sebagainya.

Mungkin saya memang nggak punya asma yang bisa kambuh sewaktu-waktu kalau lagi stres seperti teman saya itu, tapi saya rasa semua orang butuh untuk mengempiskan balon pikirannya masing-masing secara berskala, supaya nggak stres trus akhirnya merepotkan diri sendiri dan semua urusan jadi terbengkalai.

Jadi kapan ya saya bisa mengempiskan balon itu? Supaya bisa agak santai dan tenang sedikit. Rasanya jadi tidak sabar menanti liburan yaa? ahahah. gimana dengan anda? atau ada yang punya ungkapan lain yang menarik tentang stres?

- D! -

bye bye bloody November, hello next UNCERTAINITY.

December 2nd, 2007 by luvtolaugh

byebye bloody november,

Yah bisa dibilang saya sangat amat lega bulan November sudah lewat. Bulan november kemarin terasa sangat berat buat saya, karena malam-malam di bulan november seringkali diisi dengan bunyi ketikan jari-jari di atas laptop sambil mengemil, atau helaan napas dan mata yang pegal ketika saya harus membaca bahan untuk tugas. Belum lagi weekend di bulan November samasekali tidak seperti weekend karena setiap minggu ada acara kepanitiaan kampus yang terlalu sayang untuk dilewatkan, atau saya memang tidak bisa melewatkannya karena saya panitianya.

Selain itu semua, yang paling buruk dari November kemarin adalah malam hari-hari dan malam-malam yang diisi dengan tangisan dan kemarahan dan argumen sia-sia, kenapa saya bilang sia-sia? Sia-sia karena berkali-kali saya mencoba, bersikeras dengan segala argumen saya, semua tidak ada artinya. Tidak ada yang berubah. Saya HARUS menerima mentah-mentah apa yang sebetulnya sangat tidak saya harapkan. 

Bayangan saya tentang hari-hari yang indah setelah melewati November hilang sudah, liburan menyenangkan saya dengannya yang selalu saya tunggu-tunggu sepertinya sangat sulit dicapai, waktu-waktu semakin sempit dan jarak antara kami perlahan terlihat. Terlihat bagian-bagian dari dirinya yang mulai tidak saya kenali dan tidak bisa saya jangkau, dan saya sangat sedih mengetahui hal itu. Saya sungguh tidak mengerti, tapi saya tahu saya harus belajar untuk mengerti dan menerima, walau dalam hati saya memaki.

Letih, pasti. Tapi yang jelas saya kecewa. Saya bingung harus percaya kepada apa. Ketika semua kata-kata tidak bisa dipegang lagi lalu apa yang harus saya percaya? Padahal kata adalah cara paling mudah dimengerti untuk berkomunikasi. Tapi itupun terasa sulit karena waktu yang semakin sempit. Jarang sekali ada tawa, jarang sekali ada pembicaraan bodoh antara kami dan kegiatan membuang waktu yang tidak penting, tidak ada lagi.

Saya tidak mengerti apa yang ia mau, dia pun sebaliknya. Hanya kata maaf yang berulangkali terucap, maaf yang menurut saya juga sia-sia, sama seperti airmata saya. Apa yang harus saya lakukan agar saya memahami? Apa yang harus saya lakukan agar saya dipahami? Apa yang harus saya lakukan agar ini tak terjadi? TIDAK ADA, karena memang tidak bisa.

Dia, selalu dikelilingi oleh orang-orang lain. Orang orang yang tidak saya kenal. Menjadi sulit dijangkau, menjadi sulit dikenali dan dimengerti. Sangat berbeda dengan dia yang saya tahu entah mengapa saya merasakan hal itu, saya agak tertegun mencoba berpikir ‘dia itu siapa?’ lalu terdiam tidak mengerti. Saya tidak tahan tidak bisa menjangkaunya, saya tidak tahan harus menunggu untuk menyeampaikan semua cerita, saya tidak tahan harus sendirian ketika saya butuhkan dia untuk ada, saya tak tahan selalu ada untuk dia ketika dia butuh saya.

Oke, saya akui sedikit perasaan bangga memang terselip di lubuk hati, namun apa artinya bangga jika saya harus menangis menahan kesal dan tangisan? Saya sadar saya telah menjadi orang yang paling tidak kooperatif selama sebulan ini. Saya tidak mau bekerja sama dan terus berkonfrontasi dengannya padahal ia butuh dukungan. Ia butuh didukung, ia butuh dimengerti, lalu saya? apa saya tidak punya kebutuhan? Ah, saya ini sangat egois, dan sangat pamrih. Tapi saya manusia? Manusia yang terluka tidak bisa bekerja sama.

Saya lelah berargumen, saya lelah terus menangis, menunggu, menyumpah. Saya lelah bertengkar, pertengkaran yang sia-sia. Saya bosan dengan kata ‘maaf’ yang tiada artinya dan semua perkataan belaka. Saya tidak tahu apa yang menunggu saya berikutnya dan saya tidak tahu apakah saya mampu menghadapinya.

Tuhan, saya telah menjadi orang yang paling tidak bersyukur bulan ini. Saya pamrih dan saya merasa buruk, saya tidak pernah merasa sepamrih ini. Lalu apa yang bisa saya lakukan sekarang ketika semua sduah terlanjur dimulai dan saya harus ikut di dalamnya? bertahan adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat ini. Saya lelah tapi tak tahu harus lari kemana, tepatnya, tidak bisa lari, dan BELUM mau lari kemana-mana. Jadi saya harus bertahan.

Terkatung-katung tidak tahu lagi harus berharap apa. Satu-satunya yang bisa saya lakukan. Karena hanya sepotong rasa sederhana ini yang saya punya, tidak yang lain. Ijinkan saya mencoba menjaganya baik-baik, sekali lagi.

—————————————————————–

buset, mellow amat gue malem2 HEE

aint get any point

November 16th, 2007 by luvtolaugh

saya ingin mencabik cabik, membanting, berkoar sampe napas tersengal-sengal. Saya ingin menebus, ingin menebus malam-malam diamana saya sulit tidur, malam-malam yang menyebabkan mata saya bengkak dan uts psipol saya mustajab. Saya tak kunjung mengerti saya tak kunjung rela tak juga mau tak juga lega.

saya marah, saya kecewa, saya agak terpaksa. Mata bengkak, kening berkerut, saya ingin teriak saya ingin tampar saya ingin jambak, apa yang ditampar apa yang dijambak.

saya sedih sangat sedih, saya kehilangan saya meratap, berpikir termenung dan mecoba berdiri, mencoba dan mencoba, mencoba tertawa, mencoba tidak marah, mencoba tidak merepotkan itu semua, mencoba tidak membuatnya semakin susah, membuat dia paham, membuat dia tidak terbebani, saya berusaha.

tapi saya tidak bisa, karena saya benci, saya tidak mau, saya muak, saya lelah, saya letih, saya sedih, saya takut.

karena saya letih tidak dimengerti, dan juga tidak bisa mengerti

kenapa saya tidak juga mengerti?

kenapa saya tidak diam saja dan menerima dan membisu, karena saya manusia. saya tau tidak ada yang bisa dilakukan. saya capek.

saya kesal, saya letih, saya takut.

saya berlebihan.

karena saya sayang.

- D! -

saya (masih) jatuh cinta

November 7th, 2007 by luvtolaugh

Setelah saya pikir-pikir, saya ini orang yang sangat mudah jatuh cinta tapi sangat sulit percaya pada apa yang banyak disebut orang sebagai cinta, atau khususnya saya tidak mudah percaya bahwa saya ini cukup dicintai. Saya sulit percaya saya disayangi dan diinginkan oleh seseorang. Nope, itu hal yang sulit bagi saya.

Entah karena self-esteem saya yang sedikit rendah atau karena apa, tapi saya tidak pernah sekalipun merasa bahwa saya ini adalah orang yang spesial bagi seseorang. Bahkan dalam hubungan yang saya jalani sekarang ini. Oke, mungkin rasa sayang itu memang ada, tapi saya tidak pernah merasa dianggap sebagai seseorang yang spesial, walaupun berpuluh-puluh kali kata sayang diucapkan kepada saya. Sampai saat ini pun saya masih merasa saya bisa berada dalam hubungan ini karena kebetulan belaka, yang saya tahu hanyalah saat itu saya menyukainya, saya senang berada di dekatnya, saya ingin dia peduli kepada saya, itu saja. Tanpa saya ketahui bagaimana perasaan dia terhadap saya, tanpa saya berani berharap banyak. Kalau salah satu teman saya tidak memberi kode-kode saya mungkin tidak akan tahu bahwa ternyata dia pun lumayan menyukai saya, dan sampai akhirnya saya bersedia menjalankan hubungan ini adalah karena saya sudah tidak bisa ‘menyia-nyikan kesempatan yang ada’ yang saat itu ditawarkan kepada saya yang sedang jatuh cinta. Saya suka dia! Sangatl suka! Taking the chance on love, kalo kata caption fotonya dichil.

Oleh karena itu, saya tidak mengerti, dan betul-betul tidak paham dengan cewek-cewek yang bisa dengan mudah mengucapkan kata ‘putus’ kepada pacarnya untuk kemudian kembali menyambung hubungan dengan pacarnya itu, istilah gampangnya ‘putus-nyambung’. Salah satu teman saya bilang “biasalah cowo, kalo belom diputusin belom ngerasa butuh, belom ngerasa kita penting”. Saya bingung. Bukannya putus adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan?  Apalagi kalau untuk kembali lagi *yang saya maksud disini adalah cewe-cewe yang gampang memutuskan cowonya ya, bukan yang putus-nyambung karena keadaannya mengharuskan demikian* Saya sendiri sampai saat ini tidak pernah tahu apakah saya cukup berarti atau dibutuhkan oleh dia. Sekali lagi, walaupun kata-kata saying berulang kali diucapkan oleh si pacar.

Makanya, saya tidak berani, dan memang tidak bisa segampang itu mengucapkan kata putus. Saya takut. Sangat takut. Saya takut keputusan saya itu tidak tepat, apalagi kalau hanya sekedar untuk membuat si cowo menjadi lebih perhatian atau yah itulah. Nope nope, darimana saya bisa menjamin saya sebegitu pentingnya, darimana saya bisa menjamin dia sebegitu sayang dan membutuhkan saya sampai-sampai meminta saya kembali ketika kata putus itu sudah diucapkan? Saya tidak tahu apa-apa tentang perasaan dia, yang saya tahu hanya saya jatuh cinta padanya, sampai saat ini. Saya selalu akan benar-benar jatuh cinta kalau saya sudah merasa sayang terhadap seseorang, bukan untuk sekedarnya.

Ah, jangan-jangan saya ini orang yang mudah dibodohi kalau soal cinta? =)

Bukan tidak mungkin akan muncul kata putus suatu saat, entah lama entah sebentar kemudian. Yah, berapa persen sih kemungkinan hubungan di usia seperti ini berakhir di pernikahan? (saat ini saya berusia 18 tahun dan pacar saya 20 tahun). Kami masih mungkin bertemu dengan orang-orang baru, cinta-cinta baru, pelajaran-pelajaran baru. Namun, untuk saat ini saya rasa menjaga perasaan saya ini adalah satu-satunya yang dapat saya lakukan. Toh ketika harus putus saya juga harus bisa menghadapinya, saya rasa saya pasti bisa (harus!). tapi sekarang sih, saya masih jatuh cinta, entah besok, lusa, minggu depan, bulan depan, entah.

si ratu drama

September 25th, 2007 by luvtolaugh

PERHATIAN : tulisan ini semata-mata hanya hasil campur aduk aneh-aneh pemikiran saya, harap tidak  ditanggapi dengan serius, karena sumpah, tulisan yang ini niatnya cuma buat lucu2an doang.

Inspired by my sister story about Provoke Magazine.

——————————————————————————————————————————————————————-            

Drama queen, coba saya pikir-pikir lagi saya ini drama queen apa bukan ya dalam menjalani hidup sayah sehari-hari? Salah seorang temen saya sih pernah bilang begitu. Kalau begitu marilah saya analisis sekali lagi. Pertama-tama saya mulai dengan pengertian dari kata drama queen itu sendiri. Di sini saya menggunakan definisi dari drama queen yang banyak diterima oleh orang-orang, dikatakan bahwa drama queen (atau drama king) adalah seseorang yang melebih-lebihkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya dan biasanya gemar sekali menggembargemborkan kejadian itu. Kalau kejadiannya nggak bagus atau bikin sedih maka seorang drama queen akan mendramatisirnya sedemikian rupa sehingga beban yang ia rasakan terasa semakin berat dari permasalahan sesungguhnya. Begitu pula bila kejadian yang dialami adalah hal bagus, menyenangkan atau membanggakan buat dia, maka ia akan bercerita ke orang-orang dengan nada yang heboh mungkin juga ditambah sedikit bumbu-bumbu penyedap ceritanya di sana sini. Saya tidak mengatakan kalau definisi ini adalah definisi yang benar tentang drama queen tapi saya mengambil pengertian ini berdasarkan apa yang saya tangkap dari informasi di sekitar saya.

                Selanjutnya, kenapa lazimnya seseorang yang suka membuat heboh segala sesuatu disebut sebagai drama queen BUKAN drama king? Apakah dengan begini berarti hanya kaum perempuan aja yang suka membesar-besarkan segala sesuatu dan kaum pria tidak? Yah, mungkin juga maksudnya bukan begitu, saya rasa tidak sedikit juga kaum pria yang suka membesar-besarkan segala sesuatu (yang saya maksud di sini tentu saja kejadian sehari-hari, BUKAN membesar-besarkan yang lain lho! Hee..) namun hukum generalisasi telah berlaku disini dimana secara umum kalau dilihat sekilas memang sepertinya kaum perempuan lebih sering dan dalam hal kuantitas perorangan lebih banyak yang melakukan hal itu jadilah disebutnya drama queen, bukan drama king. Lagipula jumlah perempuan dan laki-laki di dunia ini juga jauh lebih banyak perempuan kan? (Yah menurut buku physiological psychology *duh lupa karangan siapa* yang pernah saya baca ini memang wajar karena pada dasarnya ketika kita dalam kandungan ibu, jenis kelamin kita semua adalah perempuan sampai setidaknya saya lupa ketika janin mencapai usia kandungan 4 atau 5 bulan gitu baru kemudian jenis mulai terbentuk organ genital kita apakah laki-laki atau perempuan *mohon dikoreksi kalau ada yang lebih tau*).

NB: teori generalisasi drama queen ini semata2 hanya perkiraan penulis jadi mohon dimaklumi kalau tidak valid dan kurang reliable.

               

Oke, saya lanjutkan lagi ya. Saya rasa sudah cukup sedikit gambaran mengenai konsep drama queen. Berikutnya saya akan menyajikan satu contoh kasus dimana terlihat perbedaan yang lumayan signifikan antara cara saya menghadapi masalah dan cara drama queen menghadapi masalah.

KASUS : mengeluh tentang kesibukan pacar.

Cara Dhea

Dhea (D)      : (menunjukkan air wajah  jutek)

Si pacar (P)  : Sayang, kamu kenapa? Marah ya? Hadu caaaar..jangan marah doong..aku takut puuun..

D : nggak marah kok (berusaha datar tapi mukanya tetep jutek luarbiasa)

P : Haduh caar, kamu kenapa lagii?? (sudah mulai tidak tenang)

D : (menarik napas dalam-dalam) duh gmana ya? Abis kamu tu orangnya emang kaya gitu jadi susah mo diapa2in lagi juga

P : yaudah kamu bilang aja, kenapa sih?

D : jadi gini loh, aku tu capek tau nggak liat kamu hilir mudik kian kemari semuamuanya dikerjain..slalu aja mau jadi orang paling sibuk, slalu mau jadi perhatian orang (nada suara mulai naik *tadinya Bes jadi B* , mata mulai sembab-sembab dikit)

P : (diem sejenak) gitu ya? Maaf yaa sayang..

D : sebenernya gausah minta maaf sih, habis aku kan juga tau kamu orangnya kaya gitu jadi mo diapain lagi (sok santai padahal lagi kesel LUARBIASA)

P : ya abis mau gmana coba? Aku juga jadi bingung..

D : gmana ya..skali-skali kek nemenin pacarnya, jangan ditinggal-tinggal terus, jangan sibuk sendiri..(mendengus *bukan melenguh*)

P : terus kamu maunya aku kaya gimana?

D : yah dikadar dong, bisa kan? Sekali-sekali gausah tampil gitu lho..Dibagi waktunya. Aku kebanyakan nuntut ya? Maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu..(menghela napas) ah gataulah..

(penulis tidak menuliskan selengkapnya karena bisa sangat panjang sekali, lagipula ini kan Cuma contoh kenapa harus detail2 amat ya gak?)

Cara drama queen

Drama Queen (DQ) : (manyun)

Si pacar (P)                  : Sayang, kamu kenapa? Marah ya sama aku?

DQ : nggak marah kok (berusaha datar tapi mukanya jelas-jelas lagi kesel dan nggak mau liat ke si pacar)

P   : Haduh caar, kamu kenapa lagii?? Aku salah ya? (sudah mulai tidak tenang)

DQ : (menggerutu dalam hati) yah nggak tau ah, kamu pikir sendiri aja kenapa.

P : yaudah kamu bilang aja, kenapa sih?

DQ : jadi gini loh sayang, aku tu capek tau nggak liat kamu hilir mudik kian kemari semuamuanya dikerjain..slalu aja mau jadi orang paling sibuk, slalu mau jadi perhatian orang. Kamu nggak sadar ya? Aku tuh juga butuh kamu perhatiin.. (dahi berkerut-kerut, mata mulai sembab)

P : (diem sejenak) gitu ya? Maaf yaa sayang..

DQ : Ah aku tu nggak ngerti deh sama kamu. Kamu sayang nggak sih sebetulnya sama aku? ( air mata mulai berlinang) Kamu bilang kamu sayang, tapi sikap kamu kaya gini..Aku tu ngerasa kaya nggak dihargai sama kamu selama ini..

P : ya abis mau gmana coba? Aku juga jadi bingung..

DQ : Aku juga bingung mesti diapain lagi..aku capek kalo kaya gini terus..Oke, mungkin kamu pikir aku berlebihan..aku tu Cuma minta diperhatiin sedikit aja sama kamu masa nggak bisa? (sambil menggenggam tisu di tangan –tisu sudah dalam keadaan mulai robek-robek)

P : terus kamu maunya aku kaya gimana?

DQ : Kamu ngomong gitu juga percuma. Dari dulu kamu nggak pernah berubah. Emang udah nggak bisa. Aku tu khawatir juga sama kamu tau nggak, kalo kamu terlalu sibuk ntar kuliah kamu keteteran lah, apa lah..aku tu sayang sama kamuu..(menahan turunnya airmata) Aku tu peduli sama kamu..Masa sama cewenya perhatian dikiiiiit aja nggak bisa, aku kan nggak pernah minta apa-apa..

P : (berkata “sabar…sabar..” dalam hati) iya sayang, aku yang salah, trus kamu maunya aku gimana biar kamu nggak sebel lagi sama aku..jangan nangis dong sayang..(berusaha menyeka airmata di pipi pacarnya)

DQ : Aku capek, nggak ngerti harus gimana lagi..(menepis tangan si pacar)

P : Sayang, jangan gitu dong..aku sayang banget sama kamu..

DQ : (berlari menembus semak-semak, meninggalkan si pacar sendirian)

                Sekian contoh kasusnya. Dapat dilihat kan perbedaannya? Pembelaan sepihak dari saya, kayanya saya bukan drama queen deh, atau setidaknya tidak se-drama queen itulah hehe..*ngeles aje* yah, mungkin saya Cuma orang yang suka curhat *dan curhatnya berulang-ulang* tentang masalah saya *yang sebetulnya juga gak gede-gede amat dan itu-itu doang masalahnya* tapi saya nggak memberi penekanan berlebihan seperti kata-kata “Dari dulu kamu nggak pernah berubah” atau “Masa sama cewenya perhatian dikiiiiit aja nggak bisa, aku kan nggak pernah minta apa-apa..” atau “Kamu sayang nggak sih sebetulnya sama aku?” begitulah. Yang jelas sih, saya nggak pernah melakukan tindakan ekstrim seperti ‘berlari menembus semak-semak’ menembus hujan, atau menembus apapun.

                Mungkin saya ini hanyalah orang yang suka curhat, atau kata pio OYKC (Orang Yang Kerjanya Curhat) *untuk penjelasan lebih jelas ttg OYKC klik http://blognyasigoblog.blogs.friendster.com/blognyasigoblog/*                                                                        Sekian penjelasan dana analisis asal-asalan saya, sekedar untuk menghibur hati daripada pusing kuliah ya gak sih? Hehe..mohon kalua ada klarifikasi info atau kritik, saran..terimakasi..

- D! - 

why should I fit my self into sumbody else’s shoes while I can make my own one?

September 10th, 2007 by luvtolaugh

hellobello.

Sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa semester 3 ini adalah semester dimana mahasiswa baru angkatan 2007 berdatangan dan mulai kuliah di kampus yang sudah menjadi tempat saya mencari ilmu *dan mencari jodoh* selama kuranglebih 1 tahun. Oleh karena itulah banyak sekali jaket kuning yang bertebaran di kampus, dan jujur itu agak membuat saya merasa sedikit tidak nyaman karena atmosfer kampus pun mau tidak mau ikut-ikutan berubah dengan adanya penghuni baru. Perubahan-perubahan juga terdapat pada matakuliah-matakuliah baru yang akan saya pelajari untuk kuranglebih 6 bulan ke depan di semester ini. Belum lagi masih banyak serentetan perubahan-perubahan kecil yang memberi pengaruh dalam hari-hari saya.

Karena adanya serentetan-serentetan perubahan itulah maka saya mau tidak mau harus BERADAPTASI untuk bertahan hidup di lingkungan yang saya diami. Well, maybe it’s not the same way as it goes in the jungle where I would get myself killed by predators if I cannot survive and fit myself in, but still I have to fit in just to live on my days in the campus, just to be conform with everybody else in it, just to get friends, just to deal with all of those lectures normally, just to be considered as the part of the community, to make it short, just because I want to be accepted.

Begitulah teman-teman sekalian, semenjak saya mulai memasuki dunia perkuliahan, emm lebih tepatnya semenjak ibu tidak ada,  saya merasa hidup saya berjalan jauh lebih cepat dibandingkan biasanya, perubahan terjadi begitu cepatnya, begitu dinamis. Yah bila dibandingkan dengan kehidupan SMA saya yang ‘hanya begitu-begitu saja’. Hari-hari saya di SMA memang dapat dibilang gegap gempita dan semarak namun cenderung stabil dan tidak naik turun. There is never been such a sharp different between the goodtimes and the badtimes, at least I can still predict what happened next in my life. Tapi semenjak kehilangan yang sangat tidak diduga-diduga yang saya alami, saya jadi tidak bisa memprediksi apa-apa lagi sekarang. Oleh karena itulah hidup saya sekarang menjadi serba tidak pasti dan terus bergerak. Ditambah lagi dengan suasana kampus yang menuntut saya untuk menjadi lebih aktif dalam apapun demi kebaikan diri saya sendiri (atau setidaknya itulah yang semua orang katakan). Untuk itulah kemampuan adaptasi saya betul-betul diuji.

Sejauh ini saya merasa cukup baik dalam beradaptasi di kampus, bahkan dengan adanya jaket kuning-jaket kuning yang berkeliaran itu ya. Namun, ada masa-masa dimana ketika saya ingin memilih menjadi antisosial. Waktu-waktu itu adalah dimana saya malas untuk beramah-ramah dengan orang dan memilih untuk mengobrol dengan teman-teman yang saya anggap benar-benar dekat dengan saya. Atau bahkan hanya duduk di suatu tempat yang nyaman dan diam membaca buku. Itulah saya yang sedang antisosial. Di waktu-waktu itu saya sedang merasa tidak nyaman dengan keadaan sekitar dan memilih untuk kembali kepada ‘my solitary shell’ *if only I have one* .

Dari proses-proses itu sedikit banyak saya belajar sesuatu bahwa saya tidak perlu membuat semua orang menyukai saya bila memang itu bertentangan dengan prinsip-prinsip saya. Yah begitulah. Oh iya, untuk situasi-situasi yang tidak menyenangkan saya juga belajar sesuatu. Jika saya tidak senang pada situasi itu (dengan kata lain situasinya tidak sesuai dengan yang saya harapkan) dan situasi itu begitu sulit diubah, maka sayalah yang harus mulai berdamai dan menyukai situasi itu untuk bertahan. Tentu saja tidak kemudian menerima mentah-mentah semuanya, tapi ‘mencocokkannya’ dengan komponen-komponen yang ada dalam diri saya.

Mungkin di sini terdengar seperti saya sangat ahli dalam menerapkan kedua hal itu, but believe me im BAD at it. Hehe. Yah intinya saya hanya ingin berbagi bahwa sampai sekarang pun saya masih harus terus berusaha beradaptasi dengan hal-hal yang ada di sekitar saya. Gitulah.

*ahh, gini deh nulis tapi di otak gada kerangkanya, aneh gini jadinya*

regrets from the old times

August 11th, 2007 by luvtolaugh

Kalau membicarakan penyesalan penyesalan yang pernah saya rasakan dalam hidup saya tentunya sudah tidak terhitung, entah itu hanya saya rasakan sebentar untuk kemudian terlewatkan begitu saja, atau teramat dalam sampai-sampai membuat saya sangat frustasi saat itu tapi kemudian saya lewatkan juga ujung2nya, tapi diantara penyesalan-penyesalan yang akhirnya terlewatkan itu toh ada yang masih saya ingat entah karena begitu dalam, berkesan, atau justru karena teramat sederhana..

seperti penyesalan ketika saya terlambat menonton topeng monyet yang sedang beraksi di depan rumah saya karena saya masih mandi saat itu, bagi saya yang masih berumur, mungkin sekitar 4 tahun, saya merasa sangat sebal..

penyesalan saya ketika saya tidak berusaha lebih baik dlm lomba melempar kaleng susu dengan bola tenis waktu 17 agustus ketika saya masih TK sehingga saya tidak menjadi juara..

penyesalan-penyesalan ketika saya berulang kali menghilangkan anting yang dibelikan ibu..

penyesalan ketika saya tidak berhati-hati sehingga tangan saya terkena rokok ayah saya dan sampai saat ini masih meniggalkan bekas di tangan..

penyesalan ketika saya bukannya menunjukkan rasa suka saya kepada cinta pertama saya ketika saya duduk di kelas 1 SD tapi justru mengejek2nya, dan menggodanya dgn mengatakan ia menyukai anak lain..sebentar setelah itu saya pun pindah kota..(dan setelah bertahun2 berikutnya saya baru tahu dari slh seorang teman saya yg dulu juga bersekolah di SD yang sama sebelum saya pindah bahwa ternyata dulu cinta pertama saya juga memiliki perasaan yang sama saat itu terhadap saya)

merasa menyesal saya tidak melanjutkan pelajaran tenis saya sewaktu kecil, akhirnya saya tdk bisa tenis juga sampai sekarang.

menyesal saya tidak melanjutkan les piano saya sewaktu kecil karena saya sebal terhadap gurunya yang terlalu memaksa, yang mengakibatkan saya tidak punya kemampuan ,memainkan piano walau sedikit..

menyesal saya tidak lebih jeli waktu berbelanja di pasar swalayan bersama ibu sewaktu saya kecil sampai2 saya tidak sadar bahwa tas ibu sudah dirobek orang dan uangnya dicuri..

penyesalan atas perbuatan2 bodoh yang saya lakukan waktu SD terhadap anak laki2 yang saya sukai, seperti mengirimi surat cinta *HAHAHA*

penyesalan terhadap pertengkaran bodoh dengan salah satu teman saya karena *ups* ‘rebutan’ cowok yang kami sukai waktu kelas 5 atau kelas 6 SD, padahal setelah saya lihat toh dia tidak segitunya..

menyesali satu pertengkaran bodoh lagi waktu SD yang disebabkan tindakan saya ‘makan bekal di kelas sewaktu pelajaran sedang berlangsung’ dan teman saya mengadukannya.

menyesal dulu sewaktu SD saya sering semena-mena terhadap seorang teman saya dengan ‘meminta’nya membantu mengerjakan atau setidak2nya menuliskan PR saya. *saya merasa saat itu saya seperti tirani*

saya menyesali tindak tanduk saya yang ceroboh dan serampangan waktu SMP *terutama dalam memilih cowok untuk dijadikan pacar* yang menyebabkan saya sering bertengkar dengan ibu dan ayah saya, padahal ujung2nya toh cowok itu yang meninggalkan saya dan saya gadis kecil yang belum tau apa2 hanya bisa menangis diam2 di rumah sambil tetap berusaha mempertahankan egonya. *saat itu seluruh pikiran dan waktu saya gunakan untuk memikirkan dia sehingga nilai rapot saya dan segala2nya kacau balau*

penyesalan ketika saya tidak berani mengungkapkan perasaan saya pada cowok yang saya suka waktu kelas 1 SMA padahal dianya seperti sudah memberi sinyal, sebentar kemudian dia jadian dengan cewek lain yang saya kenal..*saya sungguh2 patah hati waktu itu*

rasa penyesalan yang teramat dalam yang saya rasakan ketika saya tidak sengaja mematahkan kaki anak ’soang’ sehingga ia menjadi tidak bisa jalan, lemas, dan beberapa hari berikutnya ia pun mati. *saya tidak henti2nya menyebut diri saya pembunuh waktu itu*

penyesalan mengapa saya tidak mengingatkan ayah saya untuk membawa masuk hamster2 saya yang sedang dijemur di teras *dalam kandangnya* sebelum kami sekeluarga pergi keluar *pulang2 kami mendapati hamster2 itu sudah mati kepanasan*

menyesal saya tidak mempelajari pelajaran matematika dengan lebih giat lagi *hal ini menyebabkan saya lemah dalam matematika sampai saat ini*

menyesal karena tidak bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler yang saya minati sewaktu SMA, tidak melanjutkan LDK sewaktu SMA, menyesal tidak menyelesaikan kursus menyetir *sampai sekarang saya masih belum dapat SIM juga*

dan masih banyak lagi..

penyesalan-penyesalan saya terhadap banyak hal, kecil maupun besar yang saya lupakan, atau SENGAJA  saya lupakan..

penyesalan-penyesalan telah berlaku buruk pada orang-orang yang telah baik hati maupun yang tidak terlalu baikhati terhadap saya

dan masih banyak lagi penyesalan2 lain yang mungkin sudah saya lupakan..

namun yang pasti tidak saya lupakan, penyesalan ketika saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk ibu saya sebelum beliau akhirnya pergi ke tempat yang (saya harap) lebih baik daripada di sini.

mengapa saya menuliskan sedikit penyesalan-penyesalan ini? untuk merasa lebih baik? mungkin juga. untuk mengingatkan saya agar tidak melakukannya lagi di waktu2 mendatang? sangat mungkin. atau untuk sekedar membiarkan orang lain tahu? yah, mengapa tidak?

saya sendiri tidak begitu paham mengapa saya menuliskan tulisan ini. Mungkin dalam lubuk hati yang paling dalam saya berharap, saya yang sekarang dalam usia yang sudah tidak kecil lagi, namun juga belum dewasa, dapat mengambil pelajaran-pelajaran dari hal-hal tersebut *jikalau memang ada pelajaran yang bisa saya ambil* dan agar saya lebih hati-hati lagi dalam membuat keputusan nantinya.

Di luar itu semua, saya sadar betul sebagai manusia biasa tentu saya akan membuat lebih banyak lagi kesalahan nantinya..namun mungkin, yang bisa saya lakukan sekarang adalah dengan berbekal pengalaman hari kemarin, saya bisa lebih berusaha lagi untuk hari-hari esok..

dengan tidak mengecilkan arti hadirnya orang-orang lain yang membantu saya tentunya..

- D! -

apalah artinya perawan?

June 14th, 2007 by luvtolaugh

            Gue sering berbincang dengan beberapa teman tentang banyak hal, lewat chatting, waktu lagi telponan, waktu lagi duduk-duduk gak jelas yah pokoknya kapan aja selewatnya ide aja. Seringkali topik tentang seks terlintas begitu aja, hey sabar dulu, seks di sini kan bukan semata-mata hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang bisa menghasilkan anak, tapi seks itu luas. Satu hal yang sering muncul dalam pembicaraan kami adalah mengenai ‘keperawanan’. Biasanya dimulai dengan pertanyaan “Eh, lo tipe orang yang akan mempertahankan keperawanan lo sampe nikah gak sih?” yang berlanjut dengan jawaban yang berbeda-beda tentunya bagi masing-masing kami.

            Dari jawaban-jawaban itu berkembang pertanyaan lain. Misalnya seperti “gimana menurut lo orang yang santai aja tentang keperawanannya? Ngerti kan yah misalnya orang yang married by accident gitu?” pertanyaan-pertanyaan kaya gitu sering terlontarkan. Sebetulnya apa sih makna sebuah keperawanan itu sampai-sampai harus melibatkan kehormatan dan harga diri seorang wanita? Yah mari kita kesampingkan sejenak masalah dosa dan agama karena kalo gue ngebahas itu bisa-bisa tulisan ini ga slese-slese. Kalo mo cari gampangnya sih, itu ‘cuma’ masalah robeknya selaput dara sebenernya. Trus kenapa semua orang meributkan hal itu ya?

            Menurut gue pribadi rasanya ga adil kalo kita mendikreditkan seseorang Cuma dari dia masih virgin ato nggak. Bagaimana dengan orang yang kehilangan keperawanannya tanpa dia inginkan? Lalu dia harus ngadepin semua pandangan ‘menghakimi’ dari orang-orang yang tau tentang hal itu, menurut gue itu nggak adil banget. Padahal sehari-harinya dia adalah orang yang baik, pintar, dan nggak pernah ngerugiin orang lain. Gimana dengan orang yang memang kehilangan keperawanan atas keinginan mereka? Bagi gue, asal mereka sadar betul atas yang mereka lakuin dan bertanggung jawab akan itu sebetulnya ga ada masalah, karena hidup itu kan soal pilihan. Mereka toh tidak merugikan kita ?

            Mungkin keperawanan hanyalah semacam simbol bagi kita semua, dalam hal ini, perempuan. Simbol dimana ketika kita bisa mempertahankan itu maka berarti pendirian kita kuat, apakah begitu adanya? Lalu apakah orang-orang yang tidak mempertahankan keperawanan mereka sampai mereka menikah berarti tidak punya pendirian? Bukankah keputusan mereka untuk melepas keperawanan mereka merupakan wujud pendirian mereka?Bagaimana dengan kaum pria? Kenapa keperjakaan seorang pria tidak diributkan seperti halnya keperawanan seorang wanita? Karena mereka tidak punya selaput dara sebagai tanda? Nggak adil banget dong.

Lalu buat apa kita memusingkan semua ini? Sekali lagi saya tidak membicarakan perihal dosa dan agama di sini, walaupun ya, saya orang beragama.

            Perawan ataupun tidak toh tidak mempengaruhi mereka dalam bekerja secara umum, bagaimana kita bisa membedakan kerja orang yang tadinya perawan lalu kemudian tidak perawan? Menurut gue perawan atau tidak tergantung kepada diri kita masing-masing, bagaimana kita memutuskan semua itu atas keinginan kita sendiri dan tanpa intimidasi dari orang lain, itu yang saya garisbawahi. Gue sendiri akan tetap mempertahankan keperawanan sampai gue nikah nanti, setidaknya gue berusaha sebisa mungkin, bila ditanya mengapa, jawaban pertama dan utama adalah karena gue pinginnya begitu. Itu saja.